Mantan pemain internasional Prancis, Lassana Diarra, resmi membuat tuntutan kompensasi senilai 76 juta dolar AS dari FIFA dan Asosiasi Sepak Bola Belgia (KBVB). Dibawah ini anda akan melihat informasi mengenai sepak bola menarik hari ini yang telah dirangkum oleh FOOTBALL GIANTS OFFICIAL.
Tuntutan ini merupakan kelanjutan dari kemenangan hukum bersejarah yang diraihnya di Pengadilan Eropa (ECJ) pada Oktober tahun lalu. Putusan tersebut menegaskan bahwa beberapa aspek dalam regulasi transfer FIFA dinilai tidak sesuai dengan hukum persaingan usaha dan ketenagakerjaan Uni Eropa.
Gugatan ini berawal dari perselisihan yang terjadi satu dekade silam, tepatnya setelah Diarra memutuskan kontraknya dengan klub Rusia, Lokomotiv Moscow. FIFA, dengan aturan transfernya saat itu, memihak klub dan memberlakukan sanksi yang menghambat karier sang pemain. ECJ kemudian membatalkan keputusan itu dengan argumen bahwa aturan tersebut membatasi kebebasan bergerak pemain.
Dukungan penuh terhadap perjuangan Diarra datang dari serikat pemain global, FIFPRO, beserta divisi Eropa dan serikat pemain nasional Prancis. Mereka melihat kasus ini sebagai momentum krusial untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh pesepakbola di dunia, terutama yang kerap dirugikan oleh sistem yang ada.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Dampak Putusan Pengadilan Eropa
Putusan ECJ di Luksemburg menjadi preseden hukum yang sangat signifikan bagi dunia sepakbola internasional. Mahkamah menyatakan bahwa beberapa klausul dalam regulasi transfer FIFA menghambat prinsip pergerakan bebas pekerja (free movement of workers) dan mengurangi tingkat persaingan sehat antarklub di Eropa. Ini adalah kali pertama lembaga peradilan tertinggi Uni Eropa membatalkan aturan transfer FIFA.
Putusan tersebut memaksa FIFA untuk melakukan evaluasi dan perubahan mendasar terhadap sistem transfer yang telah berlaku puluhan tahun. Dalam pernyataannya, FIFA mengaku tengah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk merevisi peraturannya agar selaras dengan panduan yang diberikan oleh ECJ. Perubahan ini diprediksi akan membawa dampak luas dan mendefinisikan ulang hubungan hukum antara pemain, klub, dan federasi.
Dampak langsungnya adalah pembatalan putusan yang sebelumnya dikeluarkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang memenangkan Lokomotiv Moscow. Dengan demikian, Diarra dinyatakan bebas dari segala kewajiban finansial kepada mantan klubnya itu, yang menjadi dasar bagi tuntutan ganti rugi yang diajukan kini.
Baca Juga: Tottenham Gagal Pertahankan Keunggulan, PSG Juara Piala Super UEFA
Kronologi dan Dampak pada Karier Diarra
Persoalan hukum Diarra dimulai ketika ia bergabung dengan klub Belgia, Charleroi, setelah kontraknya di Lokomotiv Moscow diakhiri. FIFA memberlakukan aturan yang mewajibkan pemain dan klub barunya untuk membayar kompensasi kepada mantan klub apabila kontrak dianggap dilanggar tanpa “alasan yang sah”. Aturan inilah yang memicu sengketa berkepanjangan.
Sanksi dari FIFA memaksa Diarra absen dari kompetisi selama musim 2014-2015, sebuah periode puncak karier yang hilang begitu saja. Ia akhirnya dapat melanjutkan kariernya dengan bergabung bersama Olympique Marseille. Lalu kemudian mengakhirinya di Paris Saint-Germain pada enam tahun yang lalu. Namun, kerugian finansial dan non-finansial yang diderita selama masa sanksi dianggap sangat signifikan.
Diarra menegaskan bahwa perjuangan hukum ini tidak hanya untuk dirinya sendiri. Selain itu juga untuk membela pemain-pemain lain yang tidak memiliki sumber daya finansial dan mental untuk melawan raksasa sepakbola seperti FIFA. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai pemain papan atas memberinya kesempatan untuk bertahan. Namun sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak pesepakbola muda yang kurang dikenal.
Implikasi Jangka Panjang dan Gugatan Terkait
Kemenangan Diarra membuka pintu bagi ratusan bahkan ribuan pemain lain yang mungkin mengalami nasib serupa. Pengacaranya saat ini juga sedang menangani gugatan class action terhadap FIFA dan sejumlah federasi nasional di Eropa. Gugatan tersebut mengklaim dapat menguntungkan sekitar 100.000 pemain yang terdampak aturan transfer selama lebih dari dua dekade terakhir.
Kasus ini menandai era baru di mana otoritas absolut FIFA dalam mengatur transfer pemain mulai mendapat pengawasan dan koreksi ketat dari lembaga hukum independen di luar olahraga. Ini adalah tantangan berisiko tinggi terbaru yang menguji ketahanan sistem governance sepakbola dunia yang selama ini dibangun.
FIFA memilih untuk tidak memberikan komentar mendalam mengenai tuntutan ganti rugi Diarra. Lalu dengan alasan bahwa ini adalah “masalah hukum yang sedang berlangsung”. Namun, tekanan untuk melakukan reformasi struktural. Lalu juga memberikan kompensasi yang adil kepada para pemain yang dirugikan semakin besar dan tidak dapat lagi diabaikan. Manfaatkan juga waktu luang anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang berita sepak bola terupdate lainnya hanya dengan klik footballgiantsofficial.com.